Negeri ini sedang gelap. Bukan karena listrik padam, tapi karena akal sehat yang dimatikan. Mata hati banyak pemimpin kini redup, seakan lupa bahwa mereka diangkat bukan untuk dihormati, tapi untuk melayani. Rakyat yang bersuara dianggap gaduh, kritik dijawab dengan ejekan, bahkan disebut hanya "gonggongan anjing." Demokrasi yang dulu diperjuangkan dengan air mata dan darah, kini dijual murah atas nama stabilitas.
Satu per satu, kita menyaksikan kemunduran. Undang-undang yang dulu menjauhkan militer dari ranah sipil, kini dilonggarkan. Dwi fungsi TNI kembali diberi karpet merah, seolah sejarah tidak pernah mengajarkan apa-apa. Wajar jika rakyat bertanya: apakah kita sedang disiapkan untuk kembali tunduk, diam, dan dibungkam?
Tapi harapan belum mati. Karena di tengah pekatnya keadaan, selalu ada cahaya dari arah yang tak terduga. Gudang senjata rakyat sipil mulai dibuka. Bukan dengan peluru dan bayonet, tapi dengan kesadaran dan keberanian. Dan siapa sangka, salah satu gudang terbesar itu ada di dapur-dapur sederhana, di balik panci, spatula, dan kerudung lusuh: emak-emak.
Emak-emak bukan hanya pengatur belanja rumah tangga. Mereka adalah pengatur masa depan. Di tangan mereka, anak-anak dibentuk, nilai-nilai ditanamkan, obrolan warung dijadikan bahan perenungan. Jangan remehkan emak-emak yang sedang marah, apalagi yang sedang sadar. Karena sekali sadar, mereka bisa jadi kekuatan paling sulit dihentikan.
Lalu, apa yang bisa dilakukan emak-emak saat negeri ini makin tak pasti?
1. Cerdaskan Diri, Saring Informasi Bukan zamannya lagi jadi penerima pasif. Emak-emak harus jadi penjaga gawang informasi keluarga. Pelajari isu-isu penting dari sumber terpercaya, bukan cuma grup WhatsApp. Pahami apa yang terjadi, siapa yang bermain, dan siapa yang dikorbankan.
2. Didik Anak Jadi Manusia Merdeka Ajarkan anak berpikir kritis, berani bicara, dan punya empati. Negeri ini butuh generasi yang tak hanya cerdas, tapi juga punya hati. Sekolah boleh mengajarkan rumus, tapi rumah adalah tempat belajar nilai.
3. Gunakan Media Sosial Sebagai Senjata Media sosial bukan cuma tempat jualan atau update kue baru. Gunakan untuk menyuarakan kebenaran, berbagi pengetahuan, dan membela yang lemah. Suara satu akun mungkin kecil, tapi jika bersatu, bisa membanjiri linimasa dengan kesadaran.
4. Bangun Komunitas, Kuatkan Jaringan Arisan, pengajian, koperasi, atau sekadar grup ibu-ibu di RT bisa jadi ruang diskusi yang membangkitkan. Dari obrolan sederhana bisa lahir gerakan nyata. Bangun solidaritas, saling jaga, saling kuatkan.
5. Jangan Takut Bicara Diam bukan emas kalau ketidakadilan dibiarkan. Jika ada kebijakan tak masuk akal, suarakan. Jika ada ketimpangan di depan mata, sorot. Emak-emak punya hak bersuara, dan hak itu tak boleh dibungkam siapa pun.
Negeri ini gelap, ya. Tapi jangan lupa: peluru tak selalu berasal dari senapan. Kadang, ia keluar dari suara ibu yang menyadarkan. Gudang senjata itu bukan di markas besar, tapi ada di rumah-rumah biasa yang mulai membuka mata.
Dan kalau emak-emak sudah bergerak, sejarah tahu: tak ada yang bisa menghentikan perubahan. Kini saatnya membangun kembali Arsenal rakyat sipil—tempat semua keberanian, ide, dan aksi dikumpulkan, disiapkan, dan diarahkan untuk menjaga masa depan bangsa.
Comments
Post a Comment