Baru-baru ini aku menonton drama Korea terbaru yang judulnya When Life Gives You Tangerines, yang membawaku pada kisah cinta pasangan yang penuh warna, penuh liku, tapi tetap memberikan inspirasi. Drama ini mungkin terdengar manis dan ringan, tapi ada satu hal yang mengganjal: banyak orang yang mengira sosok Gwan Sik—si pria rupawan yang selalu berusaha menunjukkan sisi romantisnya—adalah mitos belaka. Kenyataannya? Gwan Sik itu nyata, dan aku punya versi nyata dari Gwan Sik yang bukan hanya sekadar tampan, tapi juga penuh usaha. Dan siapa sangka, itu adalah pasangan hidupku sendiri.
Ya, aku mengakui, suamiku mungkin bukan Gwan Sik yang disorot kamera dengan wajah tampan tiap saat, tapi usaha dan tindakan nyata dia jauh lebih mencuri perhatian dibandingkan kata-kata manis. Gwan Sik di drama itu dikenal dengan "act of service" yang luar biasa, bukan hanya sekadar janji-janji manis. Dan kalau boleh aku bilang, suamiku mungkin lebih cocok menjadi contoh dari Gwan Sik sejati. Dia memang tak banyak bicara, tapi tindakan konkret untukku, keluarga, dan bahkan lingkungan lebih berbicara banyak daripada kata-kata.
Pernahkah kalian merasa, meski seorang pria tampak seperti sosok penyelamat, dalam pernikahan yang sebenarnya, pasangan wanita pun harus sangat kuat? Drama ini menghadirkan Ae Sun yang ketika remaja, kadang terkesan seperti seorang yang memanfaatkan kebaikan hati Gwan Sik. Tapi saat Ae Sun semakin menua, karakter dia berkembang dengan sangat menarik. Dia bukan hanya pendamping, tapi juga pembela Gwan Sik yang setia. Setiap kali Gwan Sik terlihat begitu tangguh, Ae Sun tak kalah hebat. Di balik semua perhatian dan usaha Gwan Sik, Ae Sun justru tumbuh menjadi lebih kuat dan semakin tangguh.
Meskipun Gwan Sik tampil sebagai "kapten" yang hebat, untukku, sosok Ae Sun tidak kalah pentingnya. Ae Sun yang awalnya terkesan bergantung pada suaminya, pada akhirnya menjadi pilar kekuatan yang tak terlihat namun sangat berdampak. Dia bukan hanya menjadi seorang pendamping, tetapi partner sejati yang mendukung Gwan Sik dalam segala hal. Inilah pasangan yang benar-benar menua bersama, dengan segala kelemahan dan kekuatannya, tapi tetap berjalan berdampingan.
Namun, tentu saja, When Life Gives You Tangerines tidak lantas mengabaikan kenyataan yang lebih kompleks. Meskipun karakter-karakter ini terlihat sangat ideal, tetap saja ada batasan dalam nilai-nilai yang dipegang teguh. Misalnya, meskipun kita bisa memahami sisi-sisi kemanusiaan yang ada di dalam cerita ini, hamil di luar nikah tetap tidak bisa dibenarkan dalam perspektif moral dan agama. Begitu juga dalam kehidupan nyata, kita tentu harus berusaha menjaga nilai-nilai yang kita anut, meski kita bisa memaafkan dan belajar dari kekurangan.
Drama ini akhirnya mengajarkan satu hal: pasangan yang benar-benar "menua bersama" adalah mereka yang saling memahami, saling mendukung, dan berjalan berdampingan meskipun tidak sempurna. Mereka adalah contoh bagaimana perjalanan hidup bersama pasangan bisa penuh warna—meski kadang terasa asam, kadang manis, tetap bisa membentuk rasa yang sempurna. Jadi, meskipun aku punya Gwan Sik yang nyata, aku pun harus menjadi Ae Sun yang semakin tangguh—siap mendukung, tumbuh, dan tetap mencintai dalam segala kondisi.
Comments
Post a Comment