Pagi itu, matahari tidak langsung menyala. Ia sekadar mengintip malu dari sela gorden yang tak pernah benar-benar menutup rapat. Sari duduk di ujung dipan, menatap kosong ke jendela yang memantulkan siluet tubuhnya sendiri. Rumah telah hening. Suami dan anak-anak pergi seperti biasa, meninggalkan bekas tawa dan aroma sampo anak-anak di udara.
Di meja makan kecil itu, sepiring sosis goreng tergeletak sendirian. Ia menggorengnya tanpa niat makan, hanya karena tangannya otomatis melakukannya setelah melihat tiga batang sosis terakhir di freezer—sisa dari hari-hari yang dulu terasa lebih ramai. Hari-hari ketika tawa kecil datang bukan hanya dari dua anak kandungnya, tetapi dari mulut-mulut lain yang malu-malu menyebut “Bu Sari, boleh minta satu lagi?”
Air mata pertama jatuh diam-diam. Lalu yang kedua, dan seterusnya, sampai tangisnya berubah menjadi sesunggukan. Ia menutup wajahnya dengan kedua tangan, mencoba menahan suara, tapi dada yang berat tak bisa dibohongi. Ia merasakan asin air mata di lidahnya. Matanya panas, bukan hanya karena kenangan, tapi karena amarah. Bukan pada orang lain. Tapi pada dirinya sendiri.
Ia memejamkan mata. Dan bayangan itu datang lagi.
Malam dimana ia tak bisa tidur. Mata Riko yang lebam seperti terpatri di langit-langit kamarnya. Mara dan Naya telah pulas. Suaminya baru saja meletakkan ponsel ketika Sari membalikkan badan dan menangis tanpa suara.
“Aku lihat matanya biru… bukan karena jatuh, Mas. Aku tahu itu bukan jatuh.” Suaranya patah-patah. Ia memeluk dirinya sendiri, tubuhnya mengecil dalam selimut. “Aku cuma bisa kasih makan. Tapi habis itu dia pulang ke rumah itu. Dan aku tidur di sini, di kasur yang empuk, di rumah yang aman…”
Suaminya diam sejenak. Lalu meraih bahunya dan menariknya dalam pelukan.
“Kita nggak bisa menyelamatkan semua anak di dunia,” katanya pelan. “Tapi mungkin kita bisa mulai dari gang ini.”
Esok harinya, rumah Sari berubah sedikit. Tikar dibersihkan dan digelar di ruang tamu. Buku-buku lama dikeluarkan dari kardus. Crayon dan pensil warna dikumpulkan dari laci mainan anak. Sore itu, untuk pertama kalinya, Riko datang dengan langkah ragu dan duduk di pojok tikar. Ia tak bicara banyak, tapi saat disodori sosis, matanya berbinar.
Ia tertawa. Tawa kecil. Tapi nyata.
Tapi hari ini tak ada tawa. Hari ini, Sari hanya seorang ibu yang kembali duduk sendiri, ditemani piring sosis yang tak disentuh siapa pun. Sudah tiga bulan sejak kabar itu datang—tentang tubuh kecil yang dihantam terlalu keras oleh orang dewasa yang tak tahu cara mencintai.
Tak ada lagi ketukan pintu dengan suara kecil berkata, “Bu, belajar lagi, ya?”
Tak ada lagi sandal kecil berjejer di depan tikar.
Hanya sisa—sisa piring plastik, crayon patah, dan sepi yang menggumpal seperti debu di ujung rak.
Sari membuka laptop. Halaman blog yang mungkin sudah bersarang laba - kabar karena jarang diutusnya masih ada. Judul yang ia ketik minggu lalu masih menggantung: “Sosis Terakhir.”
Tapi kursornya berkedip tanpa kata.
Ia belum sanggup menulis. Belum sanggup memaknai perasaan yang terlalu keruh ini dalam bentuk kalimat.
Ia bukan aktivis lagi. Ia bukan dosen yang mengisi borang dengan kata-kata indah dan manipulatif. Ia bukan siapa-siapa sekarang. Hanya seorang ibu, di rumah sewa yang kecil, yang ingin percaya bahwa membuka pintu rumahnya bisa menyelamatkan satu jiwa.
Tapi ternyata tidak cukup.
Suara motor lewat memecah hening. Sari bangkit perlahan, membawa piring sosis ke dapur. Di luar, hari mulai hidup kembali. Anak-anak yang pulang sekolah mulai terdengar di gang. Suara tawanya samar-samar.
Mungkin, sore ini, Mara akan minta tikar digelar kembali. Mungkin, Naya akan bercerita bahwa teman sekolahnya ingin ikut belajar juga. Mungkin, ada anak lain di gang ini yang lapar. Bukan hanya perutnya, tapi juga hatinya.
Sari tidak tahu apa yang harus ia lakukan agar tak merasa gagal. Tapi hari ini, ia memutuskan: sosis itu akan digoreng lagi. Tikar itu akan dibentang. Buku itu akan dibuka.
Karena sekalipun ia belum sanggup menulisnya, cinta kadang tidak perlu kata-kata untuk bertahan.
Comments
Post a Comment